Komunikasi inklusif literasi Al–Quran braille bagi orang berpengelihatan normal dan tunanetra
Abstract
Literasi keagamaan merupakan hak dasar setiap individu, termasuk penyandang disabilitas netra. Kehadiran mushaf Braille membuka ruang bagi Muslim tunanetra untuk mengakses Al-Quran secara mandiri. Namun, sedikit kajian yang menyoroti dimensi komunikasi dalam praktik membaca Al-Quran Braille yang melibatkan orang normal (awam Braille) dan tunanetra secara bersamaan. Penelitian ini bertujuan memahami pola komunikasi, makna simbolik, serta praktik inklusif yang muncul dalam interaksi tersebut. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui studi literatur dan observasi hasil wawancara. Hasil menunjukkan bahwa membaca Al-Quran Braille tidak hanya bersifat ritual keagamaan, tetapi juga sebagai bentuk komunikasi inklusif yang menegaskan kesetaraan spiritual. Praktik ini menghadirkan inversi peran: tunanetra berposisi sebagai guru literasi Braille, sementara orang normal menjadi “pembelajar.” Penelitian ini memberikan kontribusi bagi kajian komunikasi dengan menegaskan peran literasi agama sebagai media interaksi simbolik dan inklusi sosial.
Copyright (c) 2026 Tengku Faisal, Fauzan Azzamuddin Fatahillah, Azkaa, Aqilah Zahra, Nahdah Izah Laili

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.




